Kota Mataram di Cengkeram Komersialisasi

Pernahkah anda melintas di jalan Sriwijaya? Anda pasti tidak akan luput melihat “monumen” three di tengah-tengah simpang jalan. “Monumen” three ini memiliki bentuk 3 dimensi yang besar dari logo three, operator GSM di Indonesia. Di sekeliling pagarnya yang berbentuk segitiga, terpampang salah satu iklan three yang terbaru, dimana Agnes yang cantik sedang tersenyum, mungkin karena sedang memikirkan pacar dadakannya yang gembrot itu.

Pernahkah anda melintas di Jalan Pejanggik? Di depan Mataram Mall, berdiri dengan megah, TV berukuran raksasa, yang sampai pagi jam 6 pun masih menayangkan tanpa henti, iklan-iklan rokok dari salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia. Proyek sejenis sepertinya akan dikerjakan juga di Simpang Jalan Bank Indonesia.

Selain dua hal diatas, jika anda perhatikan jumlah spanduk dan baliho iklan dari Ampenan sampai Cakranegara, anda pasti membutuhkan mesin hitung untuk mencatatnya dengan tepat.
Belum lagi dengan pembangunan ruko yang sepertinya, sedang tren, bermunculan seperti jamur-jamur di musim hujan.

Saya terang prihatin sekali dengan fenomena ini.

Mungkin bagi pemda, hal-hal diatas menambah PAD dari sektor periklanan dan pajak perdagangan. Tetapi, adalah tidak layak jika disimpang jalan yang notabene berada di jantung kota berdiri “monumen” yang melambangkan komersialisasi, bukannya menggambarkan religiusitas Kota Mataram yang berani bergelar Kota Ibadah, dan pulaunya, Pulau Seribu Masjid.

Keprihatinan lainnya adalah, tayangan iklan-iklan di TV raksasa, bukanlah sesuatu yang bermanfaat, karena iklan yang ditayangkan adalah iklan rokok, yang menjadi perusak kesehatan dan pembunuh banyak jiwa. Non stop, sampai pagi!!!

Saya sebagai warga yang peduli, menghimbau, bukan dengan demo, tetapi dengan mengetuk nurani pemerintah yang berwenang untuk mengganti “monumen” three, monumen Surya (milik Gudang Garam, di simpang Sweta) dan tayangan TV raksasa di Mataram Mall dengan monumen lain yang lebih mencerminkan Kota Mataram yang beribadah.

Tayangan-tayangan di TV raksasa hendaknya diganti dengan iklan layanan masyarakat yang lebih mendidik. Daripada menayangkan iklan rokok, nonstop.

Untuk ruko, mmmm, saya tidak bisa berbuat banyak, karena ruko-ruko ini jelas membuka lapangan pekerjaan untuk orang banyak.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat untuk Kota Mataram yang akan segera menyelenggarakan pesta suksesi dan Selamat Jalan untuk om Ruslan yang sudah banyak membangun untuk Kota Mataram.

Tagged :

Comments are closed.